TEMPO hari, akun facebook @Putu Wijaya mengirimkan permintaan berteman dengan saya. Berikutnya, secara tergopoh-gopoh, saya lekas meng-klik “penolakan”. Bukan, bukan dengan maksud lain: Tidak santun rasanya bila orang yang lebih tua lebih dulu mengajak berteman. Setelah klik itu, saya mencoba balik mengirimkan permintaan pertemanan. Apa yang terjadi? Ternyata jawaban otomatis yang diterima, “maaf, pengguna ini memiliki terlalu banyak permintaan berteman”. Akhirnya, saya mengirim pesan ke akun tersebut. Namun, berbeda dengan email dan SMS yang dulu pernah saya kirim, pesan itu tak berbalas. Kini, alamat email Putu Wijaya dan nomor ponselnya tidak lagi saya miliki lantaran kerusakan elektronik yang sempat terjadi pada email dan ponsel saya. Maaf, karena kesibukan, saya pun tak sempat meminta bantuan kepada beberapa sahabat yang mengenal Mas Putu untuk kembali menghubungkan saya dengan beliau. Lalu, dalam facebook pula, saya akhirnya tahu sang sastrawan terkemuka Indonesia itu sedang sakit keras. Semoga beliau diberi kekuatan buat mengatasi penderitaannya. Nah, esai berikut, saya tulis beberapa tahun silam. Ia pernah terbit pada edisi Minggu di salah satu harian cetak lokal di Palembang. Saya merasa perlu melakukan republikasi atas esai ini:
Email Putu dari Singapura dan Teater di Sungai Musi
tengadah kepalaku melihat langit
teringat bulan dan rumah tua
– Li Bai
TANGGAL 19 April 2008, pukul 16.49 WIB.
Di halaman depan tangga Museum Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, Jalan SMB II, Kelurahan 16 Ilir, Kecamatan Ilir Timur I. Tak jauh dari Jembatan Ampera, di tepi Sungai Musi, Palembang.
Peserta 14 orang (9 perempuan dan 5 laki-laki) dipimpin kak Teguh dan koordinator latihan, Metty. Latihan Teater Gaung (dalam resume mengarang bebas ini) mengetengahkan kronologi berikut:
Peserta membentuk formasi tapal kuda (arena) setengah lingkaran dan melakukan meditasi dengan mata terpejam sambil bersikap duduk bersila. Dalam kontrol meditasi, kak Teguh mengarahkan peserta dengan imajinasi mengenai situasi sekitar. Tentang perahu-perahu jukung yang lalu-lalang di sungai, bocah-bocah bermain bola di plaza Benteng Kuto Besak, dan keriuhan para remaja bercengkrama dengan temannya menghabiskan sore sambil menikmati indahnya pemandangan.
Beberapa peserta yang keliru bersikap dalam meditasi mengalami “kesemutan” (keram). Para peserta kemudian rileks sejenak dan santai. Situasi yang reda, ketegangan mereka mencair.
Berikutnya, peserta diinstruksikan mengobservasi dan mengitari halaman Museum Sultan Mahmud Badaruddin II dengan berlari-lari. Setelah itu, mereka berdiri membentuk lingkaran meregangkan otot, dan mulai memasuki peran sebagai pemain.
Selanjutnya, latihan tertunda karena kak Teguh permisi sebentar mengobrol dengan temannya. Sementara koordinator latihan Metty tampaknya kurang memiliki inisiatif untuk mengarahkan peserta berikutnya mau latihan apa.
Lalu, bergantian peserta memainkan peran. Dimulai oleh Arya Kusuma Dewi, mengungkapkan perasaannya. Perasaan itu tentang cintanya kepada Toni. Ia berdesah seksi, “Oh, Toni. Tonikum….”
Toni duduk tak jauh dari sana. Budak Sekojo yang ganteng itu tersenyum simpul.
***
SEBULAN yang lalu, seorang mahasiswi bahasa melakukan penelitian naskah Dor karya Putu Wijaya. Ia menitip pertanyaan melalui kotak alamat surat elektronik saya punya (alasan mahasiswi itu: tidak tahu email-meng-email). Tapi percayakah Anda?
Sastrawan terkemuka Indonesia langsung membalas antusias. Bukti balasan itu langsung dari tangan sang sastrawan, bukan tulisan asisten atau sekretarisnya, Putu Wijaya memberi hadiah artikel gratis kepada saya.
Singkatnya, pengarang dengan ciri khas bertopi golf putih, memberitahu sedang apa dia saat itu, di mana, dan melakukan apa. Tapi ada kejutan besar, sungguh, lantaran tak disangka Putu memberi kesan sepertinya dia sudah mengenal nama saya jauh sebelum saya memperkenalkan diri! Betapa tidak, pertama saya mengirim SMS, memperkenalkan nama “Arpan Rachman”. Kedua, di email juga saya sebut begitu adanya: “Mas Putu, saya Arpan Rachman….”
Jawabannya kemudian diawali sepatah nama, “M. Arpan…”
Padahal nama depan yang tersembunyi sebagai akronim “M” itu saya tidak perkenalkan kepada dia!
Saya jadi besar kepala selama seminggu, dilanda gejala demam psikotropik-histeris-euforia panas-dingin. Kegembiraan luar biasa menikam kalbu karena idola masa kecil membalas surat.
Dari mana dia tahu soal “M” saya? Tapi jangan-jangan Putu salah-ketik saja. Lantaran dalam suratnya dia menulis: harus menulis cepat-cepat kemudian cepat-cepat pula pergi ke warnet di dekat hotel. Menghabiskan 1 dollar Singapore untuk 20 menit browsing buat membalas email saya. Sehari suntuk itu, katanya, dia baru selesai mengajar mahasiswi Nanyang University.
Di surat kedua, saya bertanya apakah Putu pernah dekat dengan kekuasaan di masa lalu? Demi menuntaskan penasaran saja dari timpaan gosip bahwa Putu dulu mengarang cerpen dari mesin tik koperasi militer yang nganggur di atas meja seperti yang kemudian diceritakannya dalam artikel di sebuah majalah remaja 20 tahun silam.
Ia menjawab tidak pernah.
***
TEATER Gaung barangkali hari ini satu-satunya grup publik di Palembang yang hidup di luar tembok steril kampus dan rumah dinas. Setelah lama vakum, latihan digojlokkan lagi kepada generasi baru. Pelatih senior Amir Hamzah Arga, Vebri al Lintani, dan Teguh Ireng bergantian menggodok para pemain muda. Tapi seperti kata Darto Marello – salah seorang pendirinya – “…banyak juga yang sekadar mampir kemudian pergi dari sini…”.
Mungkinkah Putu Wijaya mau mampir membagi ilmunya ke dekat Pasar 16 Ilir, dekat Jembatan Ampera, di tepi Sungai Musi? Rasanya mustahil.
Mengingat di Singapura, dia hanya menyentuh kaum berkelas elite intelektual. Bukan membuka workshop dengan orang-orang jembel yang hidup di pasar becek-amis-bau dan yang secara teknis-estetis-akademis hanya bermodal semangat, sedangkan keterampilan dan penampilan jembel mereka lebih menerbitkan rasa mual daripada lega. Atau, di Finlandia dan Australia, Putu membagi ilmu kepada grup-grup teater-profesi yang jelas latar belakangnya dan prospek keuntungan finansial di latar depannya. Memang dulu pernah kita tahu seniman asal Bali itu merantau lama hidup dengan para petani di sebuah desa di Jepang.
Tentu Putu paham, paradigma standar estetika elite sering hanya berkubang di tempat tak-ternoda berupa data statistik dan rangkaian teori ilmiah yang mengaca terlalu jauh hingga tak kenal lagi dengan romantisme pasar becek dan amis, yang berbau tak sedap. Di tataran elite, semua sudah tersedia, baik pakarnya ataupun perangkat teori-praktiknya, sejak zaman Plato sampai Fukuyama, maka orang lain sering seolah dianggap tak berguna. Tak heran kalau, misalnya, ada pasar yang kena gusur lantaran otoritas kota membela paradigma “demi keindahan tepian Sungai Musi” yang sebenarnya bermakna absurd bagi orang-orang yang menggantungkan hidupnya dari Pasar 16 Ilir, Palembang.
***
PUTU Wijaya jadi idola saya karena ajaran “sesat”-nya bahwa penulis adalah pembaca seumur hidup (long-life reader). Kami mungkin akan jadi dua orang penentang pertama dari pendapat yang menyatakan penulis hanya produsen bukan konsumen: bahwa untuk menulis tidak perlu banyak membaca.
Kalau dia datang, saya pengen banget minta tanda tangan. Sekalian bertanya kepadanya, mengapa dia tak lagi mencipta cerpen sehangat “Telur” yang dulu nyaris membikin saya mati ketawa jungkir-balik terpingkal-pingkal geli.
***
MENULIS risalah ini sambil duduk di bilah tangga-melingkar Museum SMB II, saya teringat dengan Li Bai, penyair Cina di masa Dinasti Tang, yang menulis puisi tentang rembulan dan rumah tua. Di tangga rumah tua berusia lebih 100 tahun yang pernah dihuni gubernur-jenderal Belanda di Palembang, sejak van Sevenhoven, Nessel van Lissa, hingga Le Coqc de Armand ‘de Ville, terasa semilir angin sejuk dari Laut Benteng di tepi Sungai Musi mengibarkan rambut gondrong ini ….
