RSS Feed

Email Putu dari Singapura dan Teater di Sungai Musi

TEMPO hari, akun facebook @Putu Wijaya mengirimkan permintaan berteman dengan saya. Berikutnya, secara tergopoh-gopoh, saya lekas meng-klik “penolakan”. Bukan, bukan dengan maksud lain: Tidak santun rasanya bila orang yang lebih tua lebih dulu mengajak berteman. Setelah klik itu, saya mencoba balik mengirimkan permintaan pertemanan. Apa yang terjadi? Ternyata jawaban otomatis yang diterima, “maaf, pengguna ini memiliki terlalu banyak permintaan berteman”. Akhirnya, saya mengirim pesan ke akun tersebut. Namun, berbeda dengan email dan SMS yang dulu pernah saya kirim, pesan itu tak berbalas. Kini, alamat email Putu Wijaya dan nomor ponselnya tidak lagi saya miliki lantaran kerusakan elektronik yang sempat terjadi pada email dan ponsel saya. Maaf, karena kesibukan, saya pun tak sempat meminta bantuan kepada beberapa sahabat yang mengenal Mas Putu untuk kembali menghubungkan saya dengan beliau. Lalu, dalam facebook pula, saya akhirnya tahu sang sastrawan terkemuka Indonesia itu sedang sakit keras. Semoga beliau diberi kekuatan buat mengatasi penderitaannya. Nah, esai berikut, saya tulis beberapa tahun silam. Ia pernah terbit pada edisi Minggu di salah satu harian cetak lokal di Palembang. Saya merasa perlu melakukan republikasi atas esai ini:

Email Putu dari Singapura dan Teater di Sungai Musi

tengadah kepalaku melihat langit

teringat bulan dan rumah tua

– Li Bai

 

TANGGAL 19 April 2008, pukul 16.49 WIB.

 

Di halaman depan tangga Museum Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, Jalan SMB II, Kelurahan 16 Ilir, Kecamatan Ilir Timur I. Tak jauh dari Jembatan Ampera, di tepi Sungai Musi, Palembang.

 

Peserta 14 orang (9 perempuan dan 5 laki-laki) dipimpin kak Teguh dan koordinator latihan, Metty. Latihan Teater Gaung (dalam resume mengarang bebas ini) mengetengahkan kronologi berikut:

 

Peserta membentuk formasi tapal kuda (arena) setengah lingkaran dan melakukan meditasi dengan mata terpejam sambil bersikap duduk bersila. Dalam kontrol meditasi, kak Teguh mengarahkan peserta dengan imajinasi mengenai situasi sekitar. Tentang perahu-perahu jukung yang lalu-lalang di sungai, bocah-bocah bermain bola di plaza Benteng Kuto Besak, dan keriuhan para remaja bercengkrama dengan temannya menghabiskan sore sambil menikmati indahnya pemandangan.

 

Beberapa peserta yang keliru bersikap dalam meditasi mengalami “kesemutan” (keram). Para peserta kemudian rileks sejenak dan santai. Situasi yang reda, ketegangan mereka mencair.

 

Berikutnya, peserta diinstruksikan mengobservasi dan mengitari halaman Museum Sultan Mahmud Badaruddin II dengan berlari-lari. Setelah itu, mereka berdiri membentuk lingkaran meregangkan otot, dan mulai memasuki peran sebagai pemain.

 

Selanjutnya, latihan tertunda karena kak Teguh permisi sebentar mengobrol dengan temannya. Sementara koordinator latihan Metty tampaknya kurang memiliki inisiatif untuk mengarahkan peserta berikutnya mau latihan apa.

 

Lalu, bergantian peserta memainkan peran. Dimulai oleh Arya Kusuma Dewi, mengungkapkan perasaannya. Perasaan itu tentang cintanya kepada Toni. Ia berdesah seksi, “Oh, Toni. Tonikum….”

 

Toni duduk tak jauh dari sana. Budak Sekojo yang ganteng itu tersenyum simpul.

 

***

 

SEBULAN yang lalu, seorang mahasiswi bahasa melakukan penelitian naskah Dor karya Putu Wijaya. Ia menitip pertanyaan melalui kotak alamat surat elektronik saya punya (alasan mahasiswi itu: tidak tahu email-meng-email). Tapi percayakah Anda?

 

Sastrawan terkemuka Indonesia langsung membalas antusias. Bukti balasan itu langsung dari tangan sang sastrawan, bukan tulisan asisten atau sekretarisnya, Putu Wijaya memberi hadiah artikel gratis kepada saya.

 

Singkatnya, pengarang dengan ciri khas bertopi golf putih, memberitahu sedang apa dia saat itu, di mana, dan melakukan apa. Tapi ada kejutan besar, sungguh, lantaran tak disangka Putu memberi kesan sepertinya dia sudah mengenal nama saya jauh sebelum saya memperkenalkan diri! Betapa tidak, pertama saya mengirim SMS, memperkenalkan nama “Arpan Rachman”. Kedua, di email juga saya sebut begitu adanya: “Mas Putu, saya Arpan Rachman….”

 

Jawabannya kemudian diawali sepatah nama, “M. Arpan…”

 

Padahal nama depan yang tersembunyi sebagai akronim “M” itu saya tidak perkenalkan kepada dia!

 

Saya jadi besar kepala selama seminggu, dilanda gejala demam psikotropik-histeris-euforia panas-dingin. Kegembiraan luar biasa menikam kalbu karena idola masa kecil membalas surat.

 

Dari mana dia tahu soal “M” saya? Tapi jangan-jangan Putu salah-ketik saja. Lantaran dalam suratnya dia menulis: harus menulis cepat-cepat kemudian cepat-cepat pula pergi ke warnet di dekat hotel. Menghabiskan 1 dollar Singapore untuk 20 menit browsing buat membalas email saya. Sehari suntuk itu, katanya, dia baru selesai mengajar mahasiswi Nanyang University.

 

Di surat kedua, saya bertanya apakah Putu pernah dekat dengan kekuasaan di masa lalu? Demi menuntaskan penasaran saja dari timpaan gosip bahwa Putu dulu mengarang cerpen dari mesin tik koperasi militer yang nganggur di atas meja seperti yang kemudian diceritakannya dalam artikel di sebuah majalah remaja 20 tahun silam.

 

Ia menjawab tidak pernah.

 

***

 

TEATER Gaung barangkali hari ini satu-satunya grup publik di Palembang yang hidup di luar tembok steril kampus dan rumah dinas. Setelah lama vakum, latihan digojlokkan lagi kepada generasi baru. Pelatih senior Amir Hamzah Arga, Vebri al Lintani, dan Teguh Ireng bergantian menggodok para pemain muda. Tapi seperti kata Darto Marello – salah seorang pendirinya – “…banyak juga yang sekadar mampir kemudian pergi dari sini…”.

 

Mungkinkah Putu Wijaya mau mampir membagi ilmunya ke dekat Pasar 16 Ilir, dekat Jembatan Ampera, di tepi Sungai Musi? Rasanya mustahil.

 

Mengingat di Singapura, dia hanya menyentuh kaum berkelas elite intelektual. Bukan membuka workshop dengan orang-orang jembel yang hidup di pasar becek-amis-bau dan yang secara teknis-estetis-akademis hanya bermodal semangat, sedangkan keterampilan dan penampilan jembel mereka lebih menerbitkan rasa mual daripada lega. Atau, di Finlandia dan Australia, Putu membagi ilmu kepada grup-grup teater-profesi yang jelas latar belakangnya dan prospek keuntungan finansial di latar depannya. Memang dulu pernah kita tahu seniman asal Bali itu merantau lama hidup dengan para petani di sebuah desa di Jepang.

 

Tentu Putu paham, paradigma standar estetika elite sering hanya berkubang di tempat tak-ternoda berupa data statistik dan rangkaian teori ilmiah yang mengaca terlalu jauh hingga tak kenal lagi dengan romantisme pasar becek dan amis, yang berbau tak sedap. Di tataran elite, semua sudah tersedia, baik pakarnya ataupun perangkat teori-praktiknya, sejak zaman Plato sampai Fukuyama, maka orang lain sering seolah dianggap tak berguna. Tak heran kalau, misalnya, ada pasar yang kena gusur lantaran otoritas kota membela paradigma “demi keindahan tepian Sungai Musi” yang sebenarnya bermakna absurd bagi orang-orang yang menggantungkan hidupnya dari Pasar 16 Ilir, Palembang.

 

***

 

PUTU Wijaya jadi idola saya karena ajaran “sesat”-nya bahwa penulis adalah pembaca seumur hidup (long-life reader). Kami mungkin akan jadi dua orang penentang pertama dari pendapat yang menyatakan penulis hanya produsen bukan konsumen: bahwa untuk menulis tidak perlu banyak membaca.

 

Kalau dia datang, saya pengen banget minta tanda tangan. Sekalian bertanya kepadanya, mengapa dia tak lagi mencipta cerpen sehangat “Telur” yang dulu nyaris membikin saya mati ketawa jungkir-balik terpingkal-pingkal geli.

 

***

 

MENULIS risalah ini sambil duduk di bilah tangga-melingkar Museum SMB II, saya teringat dengan Li Bai, penyair Cina di masa Dinasti Tang, yang menulis puisi tentang rembulan dan rumah tua. Di tangga rumah tua berusia lebih 100 tahun yang pernah dihuni gubernur-jenderal Belanda di Palembang, sejak van Sevenhoven, Nessel van Lissa, hingga Le Coqc de Armand ‘de Ville, terasa semilir angin sejuk dari Laut Benteng di tepi Sungai Musi mengibarkan rambut gondrong ini ….

Probabilitas tentang Energi di Kota Pagaralam

Posted on

“Setiap orang berhak memperoleh energi”
-Undang-undang No 30 tahun 2007

SUMBERDAYA energi merupakan kekayaan alam sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 33 Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kekayaan alam ini dikuasai negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Peranan energi sangat penting artinya bagi peningkatan kegiatan ekonomi dan ketahanan nasional, sehingga pengelolaan energi yang meliputi penyediaan, pemanfaatan, dan pengusahaannya harus dilaksanakan secara berkeadilan, berkelanjutan, optimal, dan terpadu. Menimbang bahwa, cadangan sumberdaya energi tak terbarukan terbatas, diperlukan kegiatan penganekaragaman sumberdaya energi agar ketersediaan energi terjamin.

Definisi Energi
Energi merupakan kemampuan untuk melakukan kerja yang dapat menghasilkan panas, cahaya, mekanika, kimia, dan elektromagnetika. Kemampuan ini bersumber dari proses konversi atau transformasi. Sumberdaya energi berasal dari sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan baik sebagai sumber energi maupun energi.

Ada dua asal sumber energi yakni sumber energi terbarukan dan sumber energi tak terbarukan, antara lain nuklir, hidrogen, gas metana batubara (coal bed methane), batubara tercairkan (liquified coal), dan batubara tergaskan (gassified coal).

Sumber energi terbarukan lumrahnya dihasilkan dari sumberdaya energi berkelanjutan yakni panas bumi, angin, bioenergi, sinar matahari, aliran dan terjunan air serta gerakan dan perbedaan suhu lapisan laut. Sedangkan sumber energi tak terbarukan berupa minyak bumi, gas bumi, batubara, gambut, dan serpih bitumen yang akan habis bila dieksplorasi secara terus-menerus.

Kedua sumber energi itu berada dalam lingkungan di mana terdapat kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, yang dapat mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Maka, pelestarian lingkungan hidup menjadi rangkaian berkesinambungan (cycle-bin) demi memelihara kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup bilamana sumberdaya energi baik sumberdaya energi terbarukan maupun sumberdaya energi tak terbarukan itu hendak dieksplorasi.

Ketersediaan dan Pengelolaan
Cadangan penyangga energi terdapat dalam jumlah ketersediaan sumber energi dan energi yang disimpan. Sebagai penyangga, cadangan tentunya boleh digunakan bilamana diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energi pada kurun waktu tertentu.

Kegiatan atau proses menyediakan energi, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri ditujukan sebagai pemanfaatan energi, baik langsung maupun tidak langsung. Ketersediaan ini harus dikelola secara baik dengan mengusahakan, memanfaatkan energi, dan menyediakan cadangan strategis dan konservasi sumber daya energi.

Energi diusahakan sebagai kegiatan menyediakan dan/atau memanfaatkannya. Sedangkan pengusahaan jasa energi merupakan kegiatan menyelenggarakan usaha jasa yang berkaitan dengan penyediaan dan/atau pemanfaatan energi.

Pagaralam dalam Peta Energi Nasional
Sejalan dengan visi Sumatra Selatan yang digagas Gubernur Alex Noerdin bertajuk “Sumsel sejahtera dan terdepan bersama masyarakat cerdas yang berbudaya”, Kota Pagaralam mengusung visi “Pagaralam kota agribisnis dan pariwisata yang bernuansa Islami”.

Salah satu pencapaian masa depan Sumsel yang diinginkan yakni menjadikan Sumsel sebagai daerah Lumbung Energi Nasional (LEN). Hal itu termasuk memasok sumberdaya energi secara berkelanjutan melalui pemanfaatan batubara, gas alam, energi panas bumi, gas metan, dan energi terbarukan yang akan dikembangkan. Sumsel dikenal sebagai daerah yang bijak dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya alam (energi, air, hutan, dan lain-lain) bagi kesejahteraan umat manusia.

Gagasan mengoptimalkan sumberdaya bidang energi di Kota Pagaralam dimaksudkan untuk mendayagunakan sumberdaya pertambangan dan energi (fosil dan terbarukan) secara cerdas, arif, dan bijaksana demi kepentingan masyarakat luas. Sebab dalam era Otonomi Daerah sekarang ini diperlukan peningkatan dan pemerataan pembangunan menuju kesejahteraan yang bermartabat. Di samping itu perlunya membangun dan memperkuat jejaring kerjasama ekonomi (industri, perdagangan) dan kelembagaan (regional, nasional, dan internasional).

Adapun payung hukum yang melindungi gagasan ini adalah Undang-undang Republik Indonesia No 30 tahun 2007 tentang energi. Pasal 18 UU No 30/2007 berbunyi: (1) Pemerintah daerah menyusun rencana umum energi daerah dengan mengacu pada rencana umum energi nasional; dan (2) Rencana umum energi daerah ditetapkan dengan peraturan daerah.

Perda tentang Energi
Jika merujuk UU No 30/2007, maka pemerintah kabupaten/kota memiliki kewenangan di bidang energi meliputi pembuatan peraturan daerah (Perda) kabupaten/kota; pembinaan dan pengawasan pengusahaan di kabupaten/kota; dan penetapan kebijakan pengelolaan di kabupaten/kota. Selain itu, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota berwenang membina dan mengawasi pengusahaan di lintas kabupaten/kota dan menetapkan kebijakan pengelolaan di lintas kabupaten/kota yang masing-masing dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Sedangkan pengawasan kegiatan pengelolaan sumberdaya energi, sumber energi, dan energi dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Peraturan Daerah (Perda) yang dirancang oleh Pemerintah Kota (Pemko) Pagaralam untuk disetujui DPRD Kota Pagaralam dapat termaktub dalam beberapa hal krusial di antaranya pengaturan energi, kebijakan energi dan dewan energi kota, pengelolaan energi, kewenangan pemerintah kota, pembinaan dan pengawasan, penelitian dan pengembangan.

Pengaturan energi meliputi sumberdaya energi, cadangan penyangga energi, keadaan krisis dan darurat energi, harga energi, lingkungan dan keselamatan, tingkat kandungan dalam negeri, kerja sama swasta regional/nasional/internasional. Kebijakan energi dan dewan energi kota terbagi atas kebijakan energi, dewan energi, rencana umum, hak dan peran masyarakat. Terakhir, pengelolaan energi termasuk penyediaan dan pemanfaatan, pengusahaan, konservasi energi.

Dewan Energi Kota
Kebijakan energi kota mengetengahkan ketersediaan energi untuk kebutuhan kota. Konsiderans yang meliputinya yakni ketersediaan energi untuk kebutuhan kota; prioritas pengembangan energi; pemanfaatan sumberdaya energi kota; dan cadangan penyangga energi kota.

Demi mengimplementasikan kebijakan tersebut, perlu dibentuk Dewan Energi Kota (DEK). DEK bertugas merancang dan merumuskan kebijakan energi kota untuk diterapkan oleh pemerintah kota dengan persetujuan DPRD kota; menetapkan rencana umum energi kota; menetapkan langkah-langkah penanggulangan kondisi krisis dan darurat energi; mengawasi pelaksanaan kebijakan di bidang energi yang bersifat lintas sektoral.

Batang tubuh DEK terdiri dari struktur yang berisi unsur kepemimpinan dan keanggotaan. Pimpinan dipangku oleh ketua: Walikota, wakil ketua: Wakil Walikota, dan ketua harian: Kepala Dinas Pertambangan dan Energi.

Anggota DEK diduduki oleh tujuh orang, baik kepala dinas/instansi terkait bidang energi maupun pejabat pemerintah lainnya yang secara langsung bertanggung jawab atas penyediaan, transportasi, penyaluran, dan pemanfaatan energi; serta delapan orang dari unsur pemangku kepentingan (stakeholders). Jumlah seluruh anggota DEK sebanyak 15 orang.

Unsur keanggotaan dari pemangku kepentingan disaring dari kalangan akademisi (2 orang), industriawan (2 orang), teknokrat (2 orang), aktivis lingkungan hidup (1 orang), dan konsumen (2 orang).

Mekanisme konstitusional yang dijalankan yakni Pemko Pagaralam mengusulkan calon anggota DEK kepada DPRD Kota Pagaralam sebanyak dua kali dari jumlah setiap kalangan pemangku kepentingan. Berikutnya, penentuan calon dilakukan melalui proses penyaringan yang transparan dan akuntabel. Ketentuan lebih lanjut mengenai tatacara seleksi calon anggota DEK diatur dengan Perda.

Mereka dipilih oleh DPRD kota, kemudian diangkat dan diberhentikan oleh Walikota dengan masa jabatan terbatas. Batas masa jabatan 7 anggota DEK dari kepala dinas/instansi terkait bidang energi maupun pejabat pemerintah lainnya berakhir setelah mereka tidak lagi menjabat dalam jabatannya. Sementara masa jabatan 8 anggota DEK dari pemangku kepentingan terhitung selama lima tahun.

DIJABARKAN dari rangkuman definisi energi beserta ketersediaan dan pengelolaannya, perletakan Kota Pagaralam dalam peta energi nasional dapat jelas terbaca bila kota ini sudah memiliki Perda tentang energi sebagai kebijakan yang selanjutnya akan diimplementasikan secara berkelanjutan dengan terbentuknya Dewan Energi Kota. Namun, last but not least, aspek penting yang tidak boleh ditinggalkan begitu saja, yakni masyarakat baik secara perseorangan maupun berkelompok dapat berperan dalam menyusun rencana umum energi dan pengembangan energi untuk kepentingan umum. Masyarakat merupakan tritunggal dalam elemen good-corporate-governance selain unsur swasta dan pihak pemerintah.

Selamat berencana membangun otonomisasi di Pagaralam, satu negeri yang elok di atap Bukit Barisan. Semoga terwujudkan.

Obituari Djohan Hanafiah

PUKUL 02:21:25 wib, Kamis (15/4/2010). Telepon seluler saya memberi tanda berkedip untuk datangnya sinyal SMS masuk.

Layanan short-message-service itu berbunyi, “Innalillahi wainna ilahi rojiun, telah wafat Djohan Hanafiah, pukul 01.20 wib di RSCM Jakarta. Semoga amal baik beliau diterima Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan mendapat kekuatan.”

Saya periksa lagi kalimat di sana. Benarlah adanya, itu bukan mimpi. Pengirimnya, Tarech Rasyid dari nomor 081368488xxx. Tahu persis saya, bahwa Tarech –akrab saya panggil “abang” –sedang mempertahankan disertasi doktoralnya di Universitas Padjadjaran, Bandung. Jadi, saya pikir, pasti dia kirim SMS dini hari itu dari Kota Kembang sana.

Ada kaitan (selain SMS) antara Tarech Rasyid dengan Djohan Hanafiah. Nanti saya ceritakan di ujung….

Sempat tercenung sesaat. Isi SMS seolah berputar liar di benak. Saya tidak dialun mimpi. Mata ini masih nyalang. Mungkin saking suntuknya, menahan capai, sepulang dari Jakabaring.

Pantas saja, kiranya, dari tengah malam tadi hujan turun merintik satu-satu tetesnya jatuh ke atas atap asbes kamar. Sementara kilat menyambar-nyambar awan di langit.

Segera saya stop game Crusader, padahal sedang seru. Raja saya tengah digempur habis oleh pasukan musuh demi berebut sejengkal demi sejengkal tanah di Timur Tengah. Saya berhenti main, tapi tidak matikan komputer, melainkan ganti mengetik text obituari ini.

Sebelum menekan tuts mencari huruf pertama, saya bermunajat. Semoga dia yang dipanggil Ilahi dini hari ini diterima dengan lapang oleh Yang Maha Kuasa.

Kenal persis saya dengan Djohan Hanafiah. Saya membahasakannya sebagai “Mamang/Paman”. Mang Djohan lagi dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, karena sakit tua.

Mendiang budayawan itu menjadi salah satu sumber berita terbaik saya. Menulis berita, khususnya soal sejarah Palembang, saya selalu minta pandangan ahli dari dia. Selain menguasai wawasan luas, Mang Djohan pun tak segan berbagi pengetahuan.

Sang budayawan avant-garde, telah banyak berkarya mengisi khazanah ilmu pengetahuan tentang berbagai ihwal mengenai kota Palembang. Ia menulis sejumlah buku yang berwibawa tentang sejarah kota tua ini. Ia menggagas pengambil-alihan pola perawatan Benteng Kuto Besak. Ia hidupkan lagi wacana revitalisasi kesultanan yang dihapuskan Belanda pada 1825.

Tapi secara pribadi, saya merasa terlambat mengenal tokoh ini. Sekira lima tahun silam, seorang sahabat mengajak saya berkunjung ke rumahnya, di bilangan Jalan Rajawali. Ketika itu, Mang Djohan menawarkan kepada saya pekerjaan. Namun, belakangan hari, lantaran sama-sama sibuknya kami, tawaran lisan itu terlupakan. Saya dulu dimintanya mengompilasi gesah cerita-cerita tutur yang hidup dalam masyarakat Palembang. Cara kerjanya, tak sukar. Beliau cukup mendikte sebuah cerita, saya menyimak. Urusan kompilasi imla itu dan karang-mengarang, dia percayai saya. Terhitung jarak rumah kami tak jauh. Malah, saya berancang-ancang akan naik sepeda saja tiap kali bila dipanggilnya. Sayang, pekerjaan itu tak pernah sempat saya sediakan waktunya. Hingga Mang Djohan dipanggil Sang Khalik….

Sebagai penulis, beliau yang tinggi ilmu dan tingkat senioritasnya, juga penuh perhatian. Satu fase dalam kelas kehidupan, dia pernah mengajarkan kepada saya tentang banyak hal.

Satu esai karya sendiri (yang tidak untuk umum) secara rendah hati dan agak malu-malu sempat saya hadiahkan kepada beliau. Muatannya, tinjauan perspektif atas posisi Sultan Ahmad Nadjamuddin dalam Kesultanan Palembang Darussalam. Tak lama setelah esai itu pindah tangan baru tahu saya, Mang Djohan rupanya jenis pembaca cepat. Lima menit keluar komentarnya, “Yang awak (kau-Red) maksud tentang Sultan Ahmad Nadjamuddin: bila selama ini dia tidak dipahlawankan, belum tentu dia seorang pengkhianat. Bukan begitu, ‘kan, Pan.” Kejeliannya saya iyakan. Entah, kebetulan atau tidak wallahualam, sultan asal Palembang yang kematiannya terkesan misterius itu kuburannya akhirnya ditemukan di Manado.

Beberapa waktu berselang, saya sengaja menjauhkan diri dari wacana kesultanan. Bukan soal lain, hanya saja saya merasa tidak cukup berilmu, walau Mang Djohan ganti memberi saya hadiah: tiga copy Staatkundig Overzicht van Ned Indie 1831 (edisi terjemahan).

Kawan saya berkomentar saat kami pulang, “Jarang, Pan, Mang Djohan memberi copy sumber kepustakaannya kepada orang lain.”

Saya juga mendapat cerita. Woelders mengarang buku Kesultanan Palembang Darussalam. Ia sempat ditemui Mang Djohan, yang datang sebagai utusan pemerintah. Dimintanya penulis asal Belanda itu meneruskan penelitian sejarah kesultanan secara lengkap, dengan sumber-sumber lebih langsung di Palembang. Tapi Woelders menolak karena merasa bukan bidang spesialisasinya di sejarah. Dari peristiwa ditampik Woelders itulah, Mang Djohan merasa terpanggil jiwanya untuk menulis sejarah tentang tanah kelahirannya, Palembang.

Kaitannya dengan Tarech Rasyid, sangat erat. Dekade tengah tahun 80-an, hingga awal 90-an, ada Taman Budaya Sriwijaya, di Jalan Kampus POM IX. Taman itu hendak dikudeta kepemilikannya oleh para seniman, termasuk dimotori Rasyid. Saat itu tak seorang pun populer disebut “budayawan” asal Kota Pempek. Antara lain, atas usul dari Tarech, dengan pertimbangan bahwa Mang Djohan dinilai begitu mumpuni kiprahnya di bidang kebudayaan, maka dinobatkanlah nama Djohan Hanafiah sebagai budayawan.

…dan dini hari tadi, sang budayawan telah tunai mengabdi demi peradaban. Ia selama ini telah menghadapkan adabnya yang baik, jujur, pemerhati, santun, dan penuh kasih kepada sesama. Kini, Mang Djohan menghadap kepada Sang Pencipta Kebudayaan. Khusus bagi saya, ia wariskan “ilmu yang bermanfaat”, saya yakin itu akan dihitung-Nya juga.

Jelas, sejak hari ini, saya terbayang mengalami kesulitan mencari sumber berita setangguh almarhum Djohan Hanafiah. Tapi pergilah, Mamang, banyak yang mendoakan Anda. Banyak….

Seniman Agen Wisata Ekonomi Kerakyatan

KENDURKAN sejenak syaraf Anda, pembaca. Bacalah cerita ini….

Agen wisata terkenal, Bondan Winarno, bekas pegawai World Bank. Ia menjejaki banyak kota, sudah berkeliling dunia. Sebagai penganut fanatik Maslowisme, Bondan menggagas genre yang kini populer di Indonesia.

Paham Maslow secara ekstrim disebut, ‘menempatkan makanan sebagai titik tertinggi budaya manusia’. Boleh dikata, menurut para Maslowis: makanan lebih utama tempatnya, bahkan dari keyakinan-spiritual, sebagai penentu peradaban lebih bernilai unggul ketimbang satu sama lain. Genre wisata ala Winarno, yakni wisata kuliner.

***

INILAH desain seminar bertema “peran peta seni budaya dalam mendukung pariwisata guna memacu ekonomi kerakyatan” yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan di Aula Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Sumsel, Kamis (8/4) kemarin.

Seminar dibuka Ekowati Retnaningsih, pelaksana tugas Kepala Balitbangda Sumsel. Acara berlangsung selama empat jam, mulai pukul 9.00-13.00 wib. Materinya, pembukaan dan doa. Lalu, di sela jeda coffee-break berdurasi 15 menit. Berikutnya, diadakan panel dan sesi tanya-jawab. Moderatornya, Amidi dari Universitas Muhammadiyah.

Tiga narasumber memaparkan pemikirannya. Masing-masing, Muhammad Jhonson Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel, Saudi Berlian Deputi Riset dan Pengembangan Seni Dewan Kesenian Sumsel, terakhir Fachrurrozie Sjarkowi Ketua Dewan Riset Daerah Sumsel.

Opini ini, karena keterbatasan ruang dan waktu, hanya membahas paparan dari narasumber pertama. Maksud kami, sekadar bagaikan telaah menjelajahi teori supaya, tujuannya, nanti mampu jadi bagian awal studi praktis lewat urun-rembug antarpihak terkait pariwisata di Sumsel ini.

Dalam paparan berjudul “peningkatan ekonomi kerakyatan melalui pengembangan desa wisata berbasis budaya lokal”, Kepala Dinas Budpar Sumsel mengemukakan postur pengembangan pariwisata dalam tiga perkelasan (klaster). Premis utamanya diuraikan sebagai ‘cara peningkatan ekonomi kerakyatan, khususnya upaya untuk pemberdayaan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan’.

Model ala Jhonson terdapat tiga klaster. Diuraikan, ada poros pengembangan dan wilayah pengaruh/terkait pengembangan di sekitarnya sebagai penerima manfaat untuk menanggulangi atau mengurangi kemiskinan. Poros pengembangan pertama, ‘Objek dan Daya Tarik Wisata (ODTW)’. Kedua, ‘Desa Wisata (DW)’. Ketiga, ‘usaha pariwisata (UP)’ semisal hotel dan resor.

Mengaitkan model dengan desain-tematik seminar, paparan ini sangat masuk akal. Sejauh upaya pemetaan memang, misalnya, akan diadakan Dinas Budpar Sumsel. Tapi ketika model ini dibongkar, tampak belum ada isinya.

Mari kita urai baseline ODTW-DW-UP di Sumsel. Dari baseline itu di-breakdown lagi desa-desa atau komunitas di sekitarnya. Kemudian, dihitung berapa elemen daya dukung (termasuk suporter) dan daya pacunya (akselerator), hingga diperoleh beberapa faktor-kunci, yang dalam skala prioritas dapat ditempatkan dalam perkelasan (pointer-factor-priority for cluster), sampailah akhirnya ditemukan titik-titik yang mungkin berhubungan sebagai peta-jalan di sana.

Berikutnya, rumusan ‘ekonomi kerakyatan’ dimasukkan sebagai variabel-rujukan ke dalam jalur peta-jalan yang tersedia. Jadi, statistiknya harus menyediakan tingkat populasi, angkatan kerja-pengangguran, dan angka kemiskinan. Terakhir, dibentuk pola sederhana saja, boleh berupa bagan-alir, mengenai bagaimana cara model ini bekerja.

Optimisme Jhonson telah kita baca. Premisnya, model pengembangan pariwisata melalui tiga klaster ODTW-DW-UP dapat menyejahteraan tingkat populasi, menyerap angkatan kerja, menekan pengangguran, dan mengurangi kemiskinan. Ancang-ancang hipotesanya, ‘model pengembangan pariwisata meningkatkan ekonomi kerakyatan.’ Sangat ideal, makanya masuk akal.

Tapi, patut diingat, bila akurasi baseline kurang adekuat, cluster bisa terbalik jadi faktor error-sampling yang krusial menggagalkan proses penolakan H0-nya, maka dengan demikian menggugurkan hipotesa. Sementara kompilasi data tentang tingkat populasi, angkatan kerja dan pengangguran serta angka kemiskinan, dapat memanfaatkan kajian Biro Pusat Statistik.

Bila Disbudpar Sumsel perlu memiliki staf khusus, bolehkah petugas data yang kompeten diminta langsung saja dari BPS Sumsel untuk membantu pekerjaan menggaris titik-titik peta wisata ini?

Alhasil, sangat dibutuhkan cetak-biru peta-wisata di Sumsel. Road-map model Jhonson begitu potensial ditindaklanjuti dalam penelitian komprehensif menuju praksis wisata yang melibatkan banyak pihak, terutama kalangan lintas-sektoral pemerintahan.

***

BAGIAN akhir artikel ini, penulis mencerita Bondan lagi. Pada 1985, bekas bankir, pengusaha, yang juga jurnalis itu, menulis cerpen. Judulnya, Cafe Opera. Isi cerpennya, tidak fiktif murni 100%. Karena ada fakta lain yang ditulis Bondan dalam beberapa esainya yang ikut juga terbaca kemudian.

Dekade akhir 70-an, dampak redupnya era Generasi-Bunga. Di Paris, mulai tumbuh musik berbasis komputer teknologi-digital. Musik itu menemukan ‘rumah’ dalam kafe-kafe yang tersebar di tepi jalan. Orang Eropa menyebutnya ‘house music’, tak lama di Belanda ditemukan formula obat-penenang yang efeknya lebih enak ketimbang mariyuana. Setelah The Beatles bubar, para pemuda tak punya panutan, idola. Mereka jadi memanut diri-sendiri. Caranya santai: duduk rileks di kafe, dengarkan musik tekno-digi itu, lalu menenggak obat, dan melayanglah.

Fenomena itu diperkenalkan Winarno dalam sebuah cerita. Kini, para pemuda di sekitar kita menggauli pop-art kebudayaan. Pada usia seumur mereka, tahun 1928, pemuda zaman dahulu bersumpah. Warisan itu sepertinya mulai lekang hari ini. Daripada bunyi biola WR Supratman, lebih terkenal bunyi musik ‘tung-ting-tang-ting-tung’. Penggemarnya, lihatlah, turis domestik yang berwisata Orgen Tunggal. Mereka lagi tersesat dalam sebuah peta. Dulu, peta itu diunjuk Bondan Winarno.*)

Lelaki yang Mengenal Bung Karno

Saat pesawat mendarat, lalu dia pun turun di Talang Betutu. Tapak langkahnya jadi awal yang merintis jalan persatuan. Penyatuan wilayah bagi orang-orang yang terpisah. Orang-orang yang berasal dari dua seberang, ilir dan ulu.

Kunjungannya hari itu ditujukan untuk membahas rencana membangun sebuah jembatan. Dana sudah tersedia, dari pampasan perang Jepang. “Halo Samidin,” sapa Bung Karno. “Apa kabar?”

Orang yang disapanya pertama kali, seorang kawan seperjuangan. Lelaki berperawakan kurus-jangkung dengan sinar mata yang cerdik. Yang berdiri di baris belakang, ikut sebagai salah seorang pengantar. Tanpa kesan ingin menonjolkan diri dan tanpa berlebihan bicara, sapa si Bung dibalasnya lembut santun.

Bumi berpijak dan langit terjunjung, saat terik menjelang siang di atas Talang Betutu tahun 1957 itu, seolah memerdekakan angin ke luas udara lepas. Tak banyak yang tahu siapa lelaki itu: yang sedikit itupun rasanya cukuplah. Lelaki itu kemudian beserta para penyambut lainnya; gubernur, walikota, dan rombongannya terus saja berjalan tegas mengiringkan presiden mereka.

Ada rasa berat yang berkecamuk dalam pikiran. Ingatan tentang 1928. Tahun ketika dia pergi meninggalkan rumah. Berlayar menuju ke Batavia, bergabung dengan kaum pergerakan. Berikrar bersama para pemuda-pemudi dalam sumpah demi kemerdekaan. Teringat olehnya pandangan sayu mata Hamidah. Istrinya, yang berasal dari kampung Sungai Tawar, tak tega bercampur pilu melepas kepergian sang suami. Sementara ketiga putranya masih butuh ajaran, didikan, dan bimbingan.

“Aku akan pulang,” bujuk Samidin kepada istrinya yang merajuk lantaran tak mau diboyong ke Jawa. “Setelah kita merdeka.”

Ditekannya geraham kuat-kuat. Hanya saja, tak mungkin lagi mengurungkan niat. Samidin mengusir bimbang dengan rasa lapang. Telinganya mendengar, dari kamar, alun dawai biola yang digesek Oetih. Menyelingi suara lantang Noengtjik yang sedang belajar menghapal bahasa Inggris. Lalu dia menyela pandang ke hadapan. Hamidah duduk di kursi, membelai Rachman yang baru berumur lima tahun; bungsunya tengah terlelap dalam buaian.

Malam itu, mereka sekeluarga tidur di tengah udara pengap. Hawa panas bulan Mei mengalir kencang. Menguap dari rawa-rawa di tepi Sungai Musi.

Embun lalu turun. Angin jadi dingin.

Pada Subuh, Samidin bergegas keluar rumah. Cuaca lembab di setengah gelap. Ia berhitung-hitung langkah tegap. Merasa harap-harap cemas, kalau-kalau naas tertangkap patroli polisi malam.

Saat itu juga disadarinya. Statusnya sebagai ekstrimis jadi sasaran ketidaksenangan dari kaum priyayi. Terlebih lagi bagi para antek-antek, kaki tangan, dan pegawai pangreh praja yang diperintah oleh pihak Gubernemen.

Le Cocq de Armand de Ville, orang Prancis yang jadi walikota, berencana membentangkan jembatan. Juga hendak menegakkan sebuah kantor baru. Watertoren atau Menara Air yang menghadap ke Sungai Kapuran.

Maket konstruksinya bahkan sudah dirancang. Tampak muka tampak benar seperti salib kokoh dengan kaki tiang yang terpancang dalam-dalam hingga jauh ke bawah tanah. Seolah-olah rancang-bangun karya Theo van Karsten itu menegaskan tentang siapa kini yang berkuasa.
Tapi, kaum priyayi adalah tukang berkelakar omong. Sedangkan gerakan bawah tanah hanya orang-orang yang diam. Yang sekaum berbicara, sementara yang lain bertindak.

Mereka bilang, “Kita sudah enak-enak hidup dengan Belanda!”

“Sudah-sudahlah, Din!” ejek seorang jongos. “Ngimpi nak merdeka?!”

Samidin diam saja.

Setelah menyeberang ke Jawa, kemudian merambah hutan belantara, bergerilya lebih ke timur. Ia bersuka hati saat berkenalan dengan seorang teman sebaya, pemuda asal Minang yang baru tamat sekolah menengah, dan akhirnya jadi kawan sepaham. Tidak juga dia keberatan disebut “orang-nya Sjahrir”. Mereka berdua dan beberapa kawan lainnya, lantas merintis berdirinya Partai Sosialis Indonesia.

Suatu senja yang remang di tepi Kali Brantas. Ketika usai mencuci kaki untuk berwudhu, pejuang yang keras itu menangis. Malamnya, dia menatap ke kali, mengusir rindu penat akan Sungai Musi. Hampir dua puluh tahun, dia belum juga pulang. Janjinya pada istri tak terpenuhi, padahal mereka sudah merdeka.

Dari surat-menyurat yang dikirim melalui kurir, Samidin mendapat berita terakhir tentang keluarganya. Istrinya Hamidah telah pindah dari rumah mereka di kampung 13 Ulu, kembali ke rumah orang tuanya di Sungai Tawar.

Anak sulungnya Oetih jadi guru bahasa Inggris dan mengajar les biola. Noengtjik hijrah ke pulau Bangka, membantu para pejuang menyelundupkan timah ke Singapura untuk ditukar dengan senjata. Sementara Rachman bekerja sebagai juru gambar di vak geologi sebuah maskapai perminyakan Belanda, memilih cara kooperatif demi menimba ilmu pemetaan.

Samidin berjuang. Sambil memendam rindu dendam pada kampung halaman.

Kebun-kebun Jepun mulai berbunga. Putik-putik luruh dan jatuh ke tanah. Berhembus angin sejuk dari kaki gunung.

Ia mengerti dan tahu mengukur diri. Sebagai bukan orang yang agung seperti gunung itu mendapat nama: Willis, dari Wong Agung Willis: pahlawan perang terkenal dari Bali.
Dan Bung Karno, Hatta, Sjahrir, kawan-kawan yang lainnya sama saja dengannya juga. Mereka bukan orang yang agung. Hanya anak-anak bangsa yang ingin hidup merdeka.

Ia di tepi kali. Gunung Willis nun di sana. Ia dan gunung itu sama-sama diam saja.

Malang, 25 Februari 1947.

Sidang Pleno KNIP dibuka dengan pidato berapi-api oleh Bung Karno. Seluruh menteri Kabinet Sjahrir tampak hadir. Jeprat-jepret kamera dengan kemilau sorot lampu blitz dari fotografer silih-berganti mewarnai acara yang diliput 88 wartawan dalam dan luar negeri.

Sejak hari itu secara resmi, pleno KNIP mulai bersidang. Komite Nasional Indonesia Pusat dengan 214 anggota lama, ditambah 230 anggota baru yang diangkat berdasarkan Peraturan Presiden No.6/1946 dan selanjutnya dikukuhkan dengan Maklumat Presiden No.2 Tahun 1947 tanggal 21 Februari 1947.

Kehadiran para anggota baru, menurut pendapat Bung Karno, bersifat sebagai peninjau saja. Sebelumnya muncul tentangan dari Badan Pekerja KNIP terhadap PP No.6/1946 dengan voting 10 suara melawan satu, yang menghendaki PP dibatalkan. Tetapi konflik tersebut tidak berlanjut sampai meruncing. Hatta meredamnya dengan pidato yang panjang tanpa teks di luar kebiasaannya.

“Jika Saudara-saudara masih juga menyangkal PP No.6, lebih baik cari Presiden yang lain dan kami akan meletakkan jabatan. Saya tidak bisa membicarakan panjang-panjang tentang hal ini, melainkan keputusannya terserah kepada Saudara-saudara,” tegas Hatta.

Mereka selama delapan hari terus sibuk berkutat dalam diplomasi. Bersidang, berdebat, beradu pendapat. Akhirnya berhasil meratifikasi perundingan perdamaian pertama antara Indonesia dengan Belanda, Perjanjian Linggarjati.

Menutup pidatonya, Sutan Sjahrir menatap mantap ke seantero ruangan. Ia berkata kepada seluruh hadirin, “Pengakuan Negara Republik yang kita kemudikan sepenuhnya, ke luar dan ke dalam, adalah pengakuan kemerdekaan dengan isi yang nyata. Itulah bagi kita artinya pengakuan de facto.”

Semua bertepuk tangan. Rasa lega merebak ke seluruh ruangan.

Termasuk Samidin, anggota KNIP nomor 89 asal Partai Sosialis. Di Malang itulah, terakhir kalinya dia berjabat tangan dengan Bung Karno. Lalu, mereka terpisah karena perang. Sementara Dwitunggal mengendalikan pemerintahan, sidang-sidang KNIP berjalan berpindah-pindah, “bergerak” terus sepanjang alur badan tanah Jawa.

Apa yang berharga dari sebuah kenangan? Yogya, Solo, Purworedjo, Malang, dan Bandung.

Saat merunduk-runduk di bawah tanah menghindari peluru-peluru berdesing di atas kepala.
Bung Karno telah mengingatkan zaman genting yang dihadapi. “Tidak dapat diketahui apa yang akan terjadi besok,” serunya. “Bisa saja anggota KNIP hilang dan kena bom.”

Mereka sendiri telah bertekad mati demi tanah air. Sambil menyandang sebilah mata pena: “bambu runcing” dalam arti lain. Lalu, terbit perjanjian Renville, Roem-Royen, dan Konferensi Meja Bundar. Pangkuan Ibu Pertiwi seperti menyambut kembalinya anak-anak bangsa yang gagah berani dengan lapang dada dan sepasang mata nan menjelma bagai danau berair dalam yang tenang.

Hingga, pada 1957 itu, Bung Karno turun. Orang masih kurang mengenal siapa Samidin dari kampung 13 Ulu. Lelaki yang dikenali Bung Karno di Talang Betutu. Hingga berlanjut kemudian, sampai hari ini. Dan jembatan itu akhirnya lempang terbentang. Tahukah sang jembatan, sapa pertama di Talang Betutu dari orang yang berperan mendirikannya dulu?

Sementara yang kurasakan, di suatu pagi hari Minggu, hanya setitik karma. Menjangkau terjatuhnya air mata yang susut. Lima puluh tahun sudah, aku berdiri mendongak ke atas tiang Ampera. Nanti, jika Kampung Arab 13 Ulu juga dibongkar, mungkin Samidin menangis di liang kubur karena tergusurnya kampung leluhur. Kulihat, di atas sana, di sekujur dinding tiang jembatan, kini hanya ada lambai baliho.

“Halo Samidin, apa kabar?” seperti menyisakan sapa Bung Karno.

Batu Karang, April 2007

*) Ilustrasi tentang KNIP dinukil dari buku KNIP:Parlemen Indonesia 1945-1950 oleh Prof Deliar Noor

Pak Guru Hadi Tak Ada Ujung

SEPERTI sosok tokoh Guru Isa, kukenal Kang Hadi. Guru Isa dalam roman Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis (Balai Pustaka, 1952). Begini sosoknya….

Kembarku Itu Punya Nama
KANG Hadi dengan aku, menurut Alip (anaknya Kanjeng-Renny), adalah dua orang yang sama. Kami mirip, konon katanya. Dari cara ketawa sampai “pasang tampang” serius.

Sekali, dulu, pernah kutanya si akang. Tapi dia menolak tegas disebut persis cetakan serupa. Aku pun begitu pula, menidakkannya. Anehnya, saat kami berdua tertawa bareng, orang mengatakan kami seperti dua orang yang tidak berbeda.

Namun tak bisa ketawa lagi bila kini kuingat Kang Hadi. Dia sudah tak ada.

Pak Guru itu sering membonceng aku pulang. Duduk di belakang vespa tua buatan Italia. Bunyi mesinnya tak enak didengar. Fajar subuh usai bermalam di rumah Alip, Jalan Iskandar sana.

Google Gagal

google tak mau mencarimu tapi oca kau harus tanggung jawab. kau lingkari jari manis tangan kananku cincin ulang tahun 17mu – nomor seperti di punggung kostum bolaku (mengidolai pemain singapura itu) – lalu glap lenyap merayap cungak ke ulu hati. muntah-muntah terus saja aku, oca. asam melambung dan tercekik rasanya. tomohon terlalu dari google jauhnya, tak usahlah mencari lagi.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.